Arsip untuk September, 2011

Muara Teweh (Geologi, MT, Gravity Project)

Dering HP berbunyi lagi….. biasanya kalo muncul nomer saja pasti gak akan saya angkat, ternyata muncul sebuah nama dari ADM lapangan yang sudah berangkat terlebih dahulu ke proyek. Dari pembicaran singkat tersebut, ternyata dia menanyakan kapan saya akan berangkat serta menginformasikan bahwa proyek sudah berjalan dimulai dengan pekerjaan yang dilakukan mitra kerja serta saya di cari-cari oleh ketua adat setempat. Lho…. Berangkat saja belum kok sudah dicari ketua adat, mampus nih…. (kata dalam hati, ada masalah apa lagi). Belum berangkat ke lapangan sudah mulai kebayang nih gimana sulitnya disana, medan yang blum diketahui, jauhnya area lokasi dan adat istiadat yang belum terdeteksi. Mampus……

Walaupun hujan datang, badai angin behembus, laksana seorang serdadu demi tugas Negara akhirnya kaki ini melangkah juga untuk menjalankan tugas dengan niat lillahi ta’ala (ibadah.com). Muara Teweh sebuah kota kecil yang belum tergambar dibenak, pekerjaan Survei Geologi dan Survei Gravity juga merupakan pengalaman baru, serta posisi “PC (Party Chief)” merupakan “makanan” baru juga. Memang saat itu “serabutan” mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan tugas tersebut karena semuanya serba baru dan serba mendadak, belum ada gambaran yang jelas tetapai semua sudah haru berjalan sesuai dengan yang sudah terjadwalkan.

STOP, berhenti membicarakan no-teknis…. coba kita bahas teknis dan non-teknis pekerjaan lapangan. Proyek ini mencakup pekerjaan Survei Geologi, Survei Gaya Berat (gravity) dan Survei Magnetoteluri, dimana dalam satu proyek mencakup dua lokasi yaitu di Jawa Barat dan Kalimantan Timur/Selatan. Apa sih gambaran dari masing-masing tahapan pekerjaan tersebut??? Dari tiga tahap tersebut, saya tidak begitu memahami karena merupakan hal baru, hanya bagian dari Survei Gaya Berat saja yang sesuai dengan background saya. Penjelasan masih-masing pekerjaan adalah :

Survei geologi adalah penyelidikan secara sistematis dan rinci atas struktur fisik batuan yang membentuk lapisan paling atas dari kerak bumi. Dilakukan pemetaan lapangan sebagai alat menentukan lokasi macam-macam formasi secara tepat. Batuan-batuan dikumpulkan dari masing-masing bagian lapangan yang dipetakan dan diselidiki, untuk menentukan umur, urutan kronologis batuan sedimen, demi mengetahui posisi struktur yang mengandung minyak.

Gravity Survey - Measurements of the gravitational field at a series of different locations over an area of interest. The objective in exploration work is to associate variations with differences in the distribution of densities and hence rock types. Survei Gravity (Gravitasi) parameter yang diukur adalah variasi harga percepatan gravitasi bumi pada posisi yang berbeda, sifat-sifat fisika yang terlibat adalah Densitas. Sebelum dilakukan pengamatan dengan alat gravity, titik-titik tempat pengamatan tersebut harus diukur terlebih dahulu dengan menggunakan GPS geodetic untuk menentukan posisi X, Y, Z yang lebih akurat. Semua titik pengamatan yang dilakukan dengan GPS geodetic tersebut harus diikatkan dengan titik KKH/KKV dari Bakosurtanal terdekat (demikian juga dengan titik Gravity).

Metode gravitasi merupakan metode geofisika yang didasarkan pada pengukuran variasi medan gravitasi. Dalam metode ini yang dipelajari adalah variasi medan gravitasi akibat variasi rapat massa batuan di bawah permukaan sehingga dalam pelaksanaannya yang diselidiki adalah perbedaan medan gravitasi dari suatu titik observasi terhadap titik observasi lainnya. Metode gravitasi umumnya digunakan dalam eksplorasi jebakan minyak (oil trap). Prinsip pada metode ini mempunyai kemampuan dalam membedakan rapat massa suatu material terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan demikian struktur bawah permukaan dapat diketahui. Pengetahuan tentang struktur bawah permukaan ini penting untuk perencanaan langkah-langkah eksplorasi baik minyak maupun meneral lainnya. Metode Survei Gravity ini adalah metode pasif yang dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi

Survey Magnetotellurics (MT) is an electromagnetic geophysical method of imaging the earth’s subsurface by measuring natural variations of electrical and magnetic fields at the Earth’s surface. Investigation depth ranges from 300m below ground by recording higher frequencies down to 10,000m or deeper with long-period soundings. Developed in Russia and France during the 1950s, MT is now an international academic discipline and is used in exploration surveys around the world. Commercial uses include hydrocarbon (oil and gas) exploration, geothermal exploration, mining exploration, as well as hydrocarbon and groundwater monitoring. Research applications include experimentation to further develop the MT technique, long-period deep crustal exploration, and earthquake precursor prediction research.

Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Variasi yang terukur (anomali) berada dalam latar belakang medan yang relatif besar. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin. Dalam magnetik harus mempertimbangkan variasi arah dan besar vektor magnetisasi, sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor percepatan gravitasi. Data pengamatan magnetik lebih menunjukan sifat residual yang kompleks. Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu jauh lebih besar. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta serta bisa diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi. Metode Survei Manetutelorik ini adalah metode pasif yang dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi.

(Semua keterangan diatas diambil dan disarikan dari berbagai sumber-sumber/artikel yang terkait. Mohon koreksi dan penjelasan lebih detail dari agan-agan yang lebih senior dan lebih kompeten dalam bidang tersebut)

Pekerjaan yang dikerjakan di Muara Teweh, Kalimantan hanya Survei Geologi dan Survei Gravity, sebenarnya semua pekerjaan itu dilakukan oleh mitra kerja so, saya hanya menjadikan koordinator untuk memastikan pekerjaan lancar serta mengurusi hal-hal non-teknis untuk mendukung kelancaran semua tahap pekerjaan. Sosialisasi di tingkat kecamatan maupun “sowan” ke ketua adat, untuk meminta ijin dan menjelaskan/meng-clear-kan permasalah yang ditimbulkan oleh pekerjaan tersebut, tak luput juga untuk bersilaturahmi dengan kepala-kepala pemerintahan serta pumuka agama. Hal-hal seru tidak terjadi dalam urusan teknis saja, karena lokasi pekerjaan yang relatif jauh dari pusat kota dimana jalan masih banyak lumpur serta belum adanya aliran listrik, dilengkapi dengan kentalnya aroma klenik dalam masyarakat asli Kalimantan (dayak).

Mobil double gardan rusak sehingga harus menunggu seharian di tengah hutan, mencari sinyal sekedar untuk menginformasikan hal tersebut. Kegiatan masak-memasak yang harus dikerjakan setiap hari juga melengkapi “penderitaan” proyek petualangan ini, dan tentunya berbelanja serta menstok beranekan makanan ketika turun ke Kota juga tak luput dari rutinitas. Diesel atau genset juga merupakan “senjata” utama untuk “menghidupkan” pekerjaan ini, karena hanya dengan sumber daya tersebut semua peralatan penunjang kegiatan survey bisa dinyalakan serta yang tak luput adalah untuk sarana hiburan satu-satunya yaitu adanya TV.

Singkat cerita, pengalamn proyek yang diberikan secara mendadak ini sangat berkesan dan bisadi- share ke rekan-rekan dikemudian hari. Thanks juga buat Om Deni Saputra yang secara de-vacto merupakan Party Chief proyek tersebut, karena beliau harus mengerjakan proyek yang berada di Jawa Barat padahal pekerjaan ini harus bekerja parallel so beliau harus fokus disana, karena terlalu serius menangani proyek di Jawa Barat tersebut sampai-sampai kelupaan untuk mengirimkan PK-nya ke Muara Teweh. Terima Kasih juga buat Om Taufik M. Andrianto yang sempat menggantikan ketika saya harus melakukan lamaran dengan calon istri, beliau sekarang sudah “lulus” dari pekerjaan tersebut dan sekarang beliau berkarir di Instansi Pemerintaan untuk memajukan dan mengawal dunia per-MIGAS-an di Indonesia, beliau juga sempet ngerjain untuk membawakan repeater radio yang segede bagong dan berat tetapi ketika sampai di proyek tidak terpakai hehehehehe…….. Hatur Nuhun juga disampaikan ke Om Anggoro dan Om Doddy (client kami) yang beberapa hari bersama dan “menderita” akibat support kami yang belum maksimal. Semua rekan mitra kerja dan semua yang mendukung kelancaran proyek tersebut yang tidak bisa disebutkan satu-satu, juga saya ucapkan banyak terima kasih banyak.

Komentar (6) »

JV (Joint Venture) ECS

 setelah lama gak nulis, akhirnya kembali lagi belajar menulis nih.......

Mul, dipanggail Pak IP (beliau adalah salah satu bos ane)…..

Suara panggilan dari senior di Geoscience yang sangat mengejutkan, sudah antri di depan lift, siap-saip teng-go karena udah jam 5 yang berarti harus segera pulang. Beberapa pikiran langsung “bergentayangan” kenapa jam segini kok boss besar manggil kroco kayak ane ini, apa karena rambut ane yang kelewat panjang (gondrong.com)? Kerjaan apa yang belum ane selesain? Ato ane mo naik jabatan (ngimpi kali yaaa….)? dan beberapa pertanyaan laen muncul di benak ane….

Singkat cerita…. Ternyata ane ditawarin untuk pindah devisi (pindah bagian) ke Marine Seismic, dimana semula ane jadi Geodetic Engineer di Land Seismic. Entah ini sebuah berkah atau karena ane tidak cakap (baca=tidak mampu) lagi untuk bekerja di Land Seismic. Karena ane dari land seismic ane juga sedikit berargumen ke bozz, bahwa masih banyak rekan-rekan geodetic di GDM (GeoData Marine) kenapa harus ane yang diberi tugas untuk pindah ke Marine seismic??? Sebuah argument (yg tepatnya alibi hehehehe) yang susah untuk dijelaskan dan dijawab oleh atasan ane. Menggunakan jawaban yang tersirat secara tegas ane ambil nih tantangan, dimana sebelumnya adanya diskusi yang sedikit “hot” dengan bozz ane tersebut.

Selang berapa waktu, ane baru tahu ternyata ane ditugaskan ke JV (joint venture) antara ELNUSA dengan CGGVeritas, dimana sekarang sudah menjadi anak perusahaan PT. Elnusa dengan nama PT. Elnusa CGGVeitas Seismic dimana prosentasi sahamnya adalah 51% Elnusa dan 49% CGGVeritas. Kapal survey seismic yang digunakan adalah Pacific Finder dengan berbendera Singapore, isu yang berkembang di level atas tuh kapal segera diganti dengan nama Elnusa Finder dan berbendera Indonesia. Hal tersebut dikuatkan ketika launching (peresmian) nih kapal dihadiri oleh para petinggi perminyakan dari Elnusa, CGGV dan pemerintahan Indonesia serta Perancis (CGGVeritas adalah perusahaan oil services yang berpusat di Perancis). Kapal ini dilengkapi dengan 4 streamer yang berarti nih kapal bisa melakukan survey seimik 2D, 3D dan 4D.

Mungkin masih ada yang penasaran kenapa ane ambil nih challenge, pertama dari jawaban bozz atas pertanyaan yang ane tanyain diatas, beliau memberi “kesempatan” ini karena ane pernah ditugaskan ke salah satu 2D survey seismic marine di perusahaan lokal Indonesia dengan menggunakan kapal sewaan dari salah satu instansi pemerintah. Selain itu juga adanya sebuah komitment dari bozz, dimana dengan adanya “fasilitas” ini akan mewujudkan semua kru seismic maupun kru kapal nantinya harus orang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan survey seismic 2D, 3D maupun 4D di Indonesia khususnya dan Asia Pasifik pada umumnya. Alasan lainnya (yang di approve my honey) adalah adanya system crews changes yang sudah jelas dan terjadwal pasti (walaupun dalam kenyataannya ada molor 2-3 hari juga he5x), schedule tersebut yaitu 35 hari on-board dan 35 cuti dirumah (waktu cuti juga “dilarang” ngantor, so pas cuti benar-benar istirahat di rumah). Mungkin tiga alasan pokok tersebut yang menjadi dasar mengambil keputusan ini, pasti ada yang ingin tahu kenapa gaji/allowance tidak dijadikan alasan! Karena ketika akan berangkat dan bergabung dengan JV ini (kebiasaan tidak familiar yang harus segera dihilangkan dari EN), belum ada suatu kejelasan mengenai penggajian, toh akhirnya saat ini allowance juga sudah bagus dibandingkan dengan system sebelumnya (Alhamdulillah).

Komitmen ini sangat sejalan dengan prinsip ane, bahwa orang bule itu tidah seharusnya “menjajah” kembali bangsa kita, karena tidak semua orang kulit putih tersebut skill-nya lebih bagus dari anak bangsa dan mereka pada umumnya hanya “memanfaatkan” tanah air tercinta ini untuk kepentingan pribadi mereka. Kapan semua itu bias diwujudkan??? Pertanyaan yang mengusik juga nih, secara gamblang dijelaskan juga bahwa rencananya kita harus “mengambil” nih kapal dalam jangka waktu 3 tahun saja (maksimal 5 tahun, permintaan dari CGGVeritas), sebuah target yang sangat realistis untuk saat ini, tapi semua itu akan sulit terwujudkan apabila tidak terjadi support dari PEMERINTAH. Mohon rekan-rekan yang berada di pemerintahan dan mempunyai kewenangan ini untuk segera men-support dan mengawal cita-cita mulia ini.

Ternyata rencana tawaran yang sudah “deal” ini tidak berjalan dengan mulus, karena masih adanya tugas dari devisi yang lama yaitu di Land Seismic, yaitu adanya planning yang harus diselesaikan maka dengan rasa tanggung jawab ane harus segera terbang ke Palembang untuk menjalankan tugas tersebut. Dengan adanya sedikit miscommunication, masih alaot juga untuk segera memenuhi rencana bergabung dengan devisi baru ini. Sebelum berangkat joint on-board dengan crews Pacific Finder terlebih dahulu memenuhi syaratnya yaitu mengikuti training T-BHOSIET & Sea Survival (dengan standart International) serta melakukan medical check-up desertain dengan imunisasi vaksin tertentu karena project yang diikuti ini beroperasi di Asia Pasific.

To Be Continues…..

Komentar (7) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.