Arsip untuk Seimic

India ~End of Story~

nih baru INTERNATIONALAkhirnya bisa nulis juga nih….

Pengennya cuti lama di rumah sambil beres-beres bantu ibu bersihin rumah mo siap-siap buat gawe, eh… ternyata malah suruh berangkat kerja lagi. Back to Topic aja lah, di India yang terasa tak berujung itu ternyata bisa membahagiankan juga (selain dapat hitungan allowance). Kebahagiaan itu datang ketika tiket Guwahati – Calcuta n Calcuta – Jakarta. Alhamdulillah yang semula kepulangan dijadwalakn tanggal 21 Mei 2009 Jakarta ternyata hilang angka satunya so jadi tanggal 2 Mei 2009 sampai Jakarta. Alhamdulillah…..

Seneng banget tapi ada sedih juga sih, soalnya yang pulang cuman bertiga dan masih empat orang lagi yang ada di India. Sory bozz, gw pulang doloean…. abisin aja rupenya, ntar baru pulang hehehehe. Tapi seneng juga sebentar aja, karena trip kepulangan ini sangat menyiksa dengan tingkat kelelahan tinggi karen berangkat dari Lumding pagi dan terus-menerus perjalanan sampai ke Jakarta besok siangnya. Emang India gak berperikemanusiaan, GILA semua kali tuh orang…. BTW, apalah artinya itu semua bila dibandingkan dengan Nasi Pecel dan Nasi Padang yang udah didepan mata, ehm…. aromanya dah tercium saat itu.

Akhirnya, cerita “menyedihkan” itu berakhir sudah. I NEVER DO IT AGAINT

~END~

forewell party

Komentar bertahan »

INDIA PART-6 (Bad News & Good News)

lumdingDah gak kerasa sebulan lebih, dah gak kerasa mulai kerasan dengan “kebiasaan” India. Abis jum’atan “ala” India yang notabene beda banget ma di Indo (soalnya pake bahasa local dan bahasa arab, so gak ngeh dech…), ada berita kalau project IOT-SP01 yang lagi jalan ini mau di”hentikan”. Dengan alasan keamanan yang semakin tidak menentu, karena sekitar 2 hari yang lalu di area survey terjadi kembali kontak senjata antara teroris dengan Army yang mengakibatkan korban jatuh di kubu Army. Gerombolan teroris di sini banyak golongan, tidak hanya satu kelompok teroris saja sehingga mempersulit untuk bisa “menaklukannya”. Disamping itu, musim penghujan juga dijadikan alasan untuk menhentikan project ini, padahal kita tahu bahwa dengan datangnya musim penghujan semakin “mempermudah” pekerjaan drilling.

Secara hitung-hitungan bisnis, semua alasan itu bisa dijadikan alasan tetapi alasan bisnis yang sangat logis sekali diutarakan karena dengan semakin molor dan tidak jelasnya management merupakan hal yang sangat mustahil untuk mendatangkan profit yang ditargetkan. Tidak ada jaminan keamanan, “kurang” profesionalnya kru, “tidak jelas-nya” management, dll semakin menambah ketidakjelasan kelangsungan project ini. Semakin banyak juga personil/kru/staff IOT sendiri yang memprediksi buramnya kelanjutan project ini.

Lha trus yo’opo? rencana pekerjaan drilling dan recording tetap dilanjutakan tetapi hanya satu lintasan saja (line KA-06), itupun apabila dihitung secara matematis dengan jumlah kru/personil yang ada tetap aja gak tau sampe kapan akan selesai (masih lebih dari satu bulan) belum lagi pengerjaan up-hole nya, padahal cuma diberi waktu sampai pertengahan mei (sekitar tanggal 15) untuk menyelesaiakn “semua” itu dan anehnya tetep saja disanggupi oleh bozz disini (PM). Itulah “incredible india”, mantab tho? Semua dibilang no-problem padahal big-problem hehehehe mungkin dah jadi habit orang India kali yaa…. Semoga saja tetap diberi kekuatan dan keberuntungan untuk dapat menyelesaikan project ini. Trus gimana ya urusan invoice-nya ya? Yo emboh iku urusanne antara India karo India hehehhe.

Wah, aku wes ngalor ngidul tapi during tau njelaske iki proyek opo & model-e piye. Sebelum berangkat kesini, aku juga gak tau sama sekali apa yang mau dikerjakan disini. Project Seismic ini berlokasi di daerah Lumding, Assam, India dengan nama block Karbi Anglong & NC Hill dengan client Oil India Limited (O.I.L) dengan main contractor India Oiltanking (I.O.T) karena I.O.T merupaka perusahaan yang baru aja bergerak di seismic maka dari pihan client mengingkan untuk ada perusahaan pendamping yang sudah berpengalaman dan itulah dipilih Hell-Nusa eh keliru…. PT. Elnusa Tbk. (Geosciences Services Division) sebagai mitra kontraktornya. So… seharusnya disini kita hanya sebagai supervisi saja, tapi…. yo wes ngerti dewe tho, diwoco wae tulisanku seng sak during-e. Oh iyo… kita kesini merupakan gelombang kedua lho, yang pertaman adalah Mr. Edi Junaidi (PC), Mr. Wahyu Rusdiana (Seismologis), Mr. Abdulah Sutopo (Chief Survey), mereka datang bulan Januari 2009 dan pulang bulan Maret 2009 trus kita gantiin dengan personil Mr. Suryo Dwiyono (PC), Mr. Ade Setiawan (Seismologis), Mula Vidya Kusuma (Chief Survey) dan beberapa hari kemudian disusul Mr. Milan Yulianto (ProMax-prossesor), Mr. Ahmad Wahdy Mursy (Chirf Obsever), Mr. Suhirman (Driller Supervisor) dan Mr. Aris Munandar (Up-Hole Observer). Jadi kekuatan kita disini adalah tujuh orang.

Wes ono gambaran tentang nih proyek tho, OK back to topic yang tadi. Setelah ada berita tentang kondisi proyek tho, jadi ada pihak yang merasakan ada berita gembira dan ada yang mendapat berita buruk karena kabar itu menyantumkan bahwa 4 orang (Mula, Milan, Herman, Aris) bisa pulang lebih cepat tapi untuk 3 orang (Suryo, Ade, Wahdy) harus tinggal untuk batas waktu yang tidak ditentukan (PISS bozz….). Sekali lagi, itulah INCREDIBLE INDIA yang “serba tidak pasti” tentang sesuatu hal. Wokey dech, selamat belanja oleh-oleh untuk yang kepulangannya dipercepat dan selamat berjuang untuk yang masih harus tetap untuk melanjutkan perjuangan dengan “jirak” (baca = jinten) yang selalu ada disetiap hidangan demi kebesaran nama ELNUSA, MERDEKA….. Ingat MOTTO kita di India, “rasah kakean cangkem, di pangan wae, ikhlas lan disyukuri” semua itu jangan memperdulikan hak, kewajiban, didholimi atau mendholimi, seng penteng rausah kakean cangkem (maaf kalo jorok/saru) to be continue……

visit http://en.wikipedia.org/wiki/Lumding untuk informasi lokasi dan lainnya

Komentar bertahan »

INDIA PART-5 ( Incredible India )

imga0156What Project is this? bener gak ya bahasa inggrisnya, hehehe. Gak kerasa juga nih, dah sebulan lebih di India tapi kok gak ngerasa kerja yaa…. gak merasa memberikan andil di proyek ini. Memang pertanyaan awal itu perlu dipertegas lagi kok, HSSE udah gak berjalan, “manipulasi” dimana-mana, produksi “megap-megap” tapi semua person yang terlibat dalam project ini terasa “nyantai” dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan. Layakah proyek ini disebut proyek seismik?.

(Proyek ini dah lama gak produksi lho, katanya sih karena ada pemilu dan upacara adat daerah setempat. Tapi waktu libur juga tidak dimanfaatkan untuk prepare dan evaluasi kenapa proyek ini low produksinya).

PERTAMA

Proyek Masak, mungkin betul juga nih. Memang kita harus menyadari semua ini, betul kata pepatah “dimana bumi kita pijak disitu langit kita junjung” tapi rasanya tidak ada timbale balikya dari itu hehehehe. trus kenapa dikatakan proyek masak? hampir semua masakan India tidak masuk di lidah orang Indonesia. Sudah hampir setiap hari diberi tahu tetapi tetap aja diulangi kebiasaan mereka, mungkin sudah habit mereka kalau dikasih tahu tidak mau berubah (ngeyel). Sudah diberikan menu dan keterangan kalau tidak tahu mune tersebut bisa langsung menghubungi orang Indonesia, tapi apa yang terjadi? NOTHING, nol besar… perubahan yang terjadi mungkin hanya 5-10%, tidak tahu apa penyebabnya! entah koki yang tidak bisa, manajer hotel yang tidak mau memenuhi semua menu atau memang dari kontraktor “hanya” dikasih budget yang hanya mampu untuk memasak itu-itu aja samapi juss, soft drink dan buah-buahan harus beli sendiri. Mana hak yang harus kita terima? masih maukan kita “dijajah” terus? masihkah kita harus belanja sendiri, memasak sendiri sampai-sampai Party-Chief harus turun tangan ke dapur untuk membuat oseng-oseng terong? atau supervisor drilling mendapat gaji double karena harus memasak?.

KEDUA

Proyek Kesabaran, mungkin tepo seliro, sungkan, pekewoh itu hanya ada di Jawa saja. Apakah perasaan itu bagus dan harus tetap dilestarikan, saya juga tidak tahu. Di India, jangan harap orang sini bisa menghormati atau mengharagi orang lain, se-level pelayan hotel saja kalo masuk kamar tanpa mengetok pintu, maen “selonong” aja masuk tanpa permisi, dengan semua kelakuan yang jauh dari nalar orang Indonesia/Jawa. So bagaimana orang-orang yang “berpendidikan”? sama juga sami mawon. Menghormati, menghargai merupakan hal yang sangat langka, mungkin hanya satu dua orang saja. Bahkan basa-basi untuk menyapa sekedar bertanya kabar saja hanya satu dua orang yang mau melakukannya. Atau orang Indonesia yang gila akan kehormatan dan dihormati karena kebiasaan kultur kerajaan yang kental melekat di Indonesia? secara pribadi, hal itu harus dibuang jauh-jauh dari pikiran. Memang harus professional dalam bekerja, tapi hormat menghormati dan relationship tetap harus dijaga tho! Katanya kalo dalam project seismic itu satu team, wah…. kan disini bukan proyek seimik (sesui judul hehehe).

KETIGA

Proyek Musiman, lha kok malah jadi proyek musiman nih! gimana ceritanya ya?. Musim di India tuh pada dasarnya ada 4 musim, sekarang mau masuk musim penghujan. Lha anehnya katanya karena musim penghujan makan semua kegiatan gak bisa berjalan normal, semu a tidak bisa produksi. Memaang mungkin access jalan untuk ke lokasi jadi lincin tapi karena itu aja masak harus sampai menyerah. Isu terakhir karena alasan itu (tentunya ada alasan lainnya) proyek harus berhenti pertengahan Mei (secara matematis gaka mungkin terjadi) dan hanya satu lintasan penuh yang akan dikerjakan mungkin ditambah dengan lintasan yang sudah diukur (TOPO) saja. So musimlah yang akan menentukan keberhasilan sebuah proyek, bukan bagaimana caranya kita mengatasi factor-faktor external tersebut bahkan dari factor external itu bisa membantu dan mendorong keberhasilan sebuah proyek (missal, hujan/air untuk support kru drilling. Itulah INCREDIBLE INDIA dengan segala macam ragam dan adat kebiasaannya. To be continue …..

Komentar bertahan »

INDIA PART-4 (Survey Dept. Method)

iot-sp01-program-mapSurvey Dept. merupakan salah satu dept. dalam project seismic yang akan melakukan tahapan pekerjaan awal atau pertama kali yang harus melakukan pekerjakan dalam sebuah project seismic. Inti pekerjaan dari tahapan ini adalah menempatkan titik-titik koordinat yang sudah direncanakan ke lapangan. Koordinat-koordinat tersebut apabila dihubungkan antara titik satu dengan yang alainnya dalam sebuah lintasan (line), biasanya akan membentuh sebuah garis lurus. So bagaimana caranya kok bisa menempatkan titik-titik yang direncanakan (teoritik) ke lapangan?

Pertama kali yang harus dilakukan adalah menentukan atau membuat titik fix yang akan digunakan sebagai acuan awal pengukuran. Titik tersebut harus mempunyai sebuah nilai koordinat (latitude, longtitude atau easting, northing dan dilengkapi dengan height/elevasi), biasanya di Indonesia menggunakan BM (benchmark) dari Bakosurtanal dan apabila BM tersebut letaknya relative jauh dengan area survey, maka dilakukan pengamatan BM di area survey menggunakan GPS Geodetic. Dengan metode tertentu yang sesuai dengan disiplin ilmu Geodesi, maka BM-BM tersebut akan disebarkan di area survey.

Setelah titik-titik fix sebagai titik star pengukuran didapatkan, maka dilakukan pengukuran/pemasangan titik-titik teoritik tersebut menggunakan alat Total Station. Alat tersebut pada prinsipnya mengukur sudut dan jarak, sehingga didapatkan sebuah nilai koordinat dengan sebuah system perhitungan secara geodesi.

Pengertian Geodesi berdasarkan dari website NOAA National Service Education Centre adalah ilmu tentang pengukuran dan pengamatan bentuk bumi dan lokasi titik di muka bumi. NOAA’s National Geodetic Survey (NGS) bertanggung jawab mengembangkan dan merawat system data Geodesi nasional (AS) yang digunakan untuk navigasi, sistem komunikasi dan pemetaan. Geodesy is the science of measuring and portraying the earth’s surface (Helmert, 1880) atau Geodesy is the discipline that deal with the measurement and representation of the earth, incuding its gravity field, in a three-dimentional time varying space (Associate Committee On Geodesy and Geopysics, 1973).

Data hasil pengukuran tersebut dilakukan pemrosesan dengan menggunakan software tertentu kemudian dihasilkan koordinat dengan tingkat keakuratan dan ketelitian tertentu. Untuk mengontrol ukuran tersebut tetap bagus dan sesuai dengan yang diharapkan, maka diperlukan pengamatan matahari untuk mengetahui arah utara sebenarnya. Pengertian pengamatan matahari secara mudahnya yaitu mengamati matahri sebagai benda langit yang posisinya selalu tetap dan dengan menggunakan hitungan tertentu dapat dijadikan sebagai acuan titik pengamatan (utara). Apabila tidak didapat dilakukan pengamatan matahari karena factor cuaca atau kondisi lapangan, maka diperlukan sebuah BM/titik fix yangdiamati menggunakan GPS Geodetic. Itulah sekilas pekerjaan pokok dari Survey Dept., masih banyak lagi pekerjaan yang laennya seperti penyediaan peta, pembuatan gambaran kondisi lapangan yang dilewati lintasan (sketchline), elevasi sebuah lintasan, rintis bridging, dll. Masih bingun??? So pasti, bagi orang awam yang bukan berkecimpung dalam sebuah pekerjaan pasti bingung, saya yakin yang bekerja di bidang seismic tapi bukan dari dept. Survey juga masih bingung. Semoga secara Geodesi, detil dari pekerjaan ini dapat terposting juga di blog ini (ditunggu masukan dan sarannya dari para senior).

Apakah gambaran diatas merupakan hal yang sudah baku??? Yang harus dikerjakan dalam sebuah pekerjaan Seismic??? Apakah hanya di satu perusahaan saja, tetapi di perusahaan yang lainnya berbeda motode dan konsepnya???. Secara Geodesi,pekerjaan diatas dapat dikatakan BENAR karena sesuai dengan kaidah-kaidah pengukuran yang sesuai dengan disiplin ilmu Geodesi.

Apabila sebuah pekerajaan dari dept. Survey dari sebuah project seismic tidak dilakukan seperti tahapan diatas bagaimana ya?. Pekerjaan itu diawali dengan pembuatan BM GPS yang diamati menggunakan GPS gedotic tentunya tetapi tidak menggunakan sebuah titik referensi yang jelas. Pembuatan BM GPS tersebut tidak menggunakan suatu sistem jarring yang dapat mengkoreksi kesalahan satu pengamatan dengan pengamatan yang lainnya. Secara mudahnya, pengamatan BM tersebut hanya menggunakan single baseline karena setip titik BM tidak terhubungkan atara yang satu dengan yang lainnya. Pemrosesannya pun dilakukan langsung setiap selesai melakukan pengukuran dan tidak ada ukuran lebih. (piye yo lek njelasne, kok aku dadi binging dewe. Hehehehe).

Pengukuran lintasan menggunakan alat Total Station diawali dengan Start line menggunakan dua titik pengamatan GPS yang tidak terikat (seperti translock) dimana azimuth dihitung dari dua GPS yang sudah diketahui koordinatnya tersebut dan tidak menggunakan Sunshot (azimuth startline tidak ada pembanding). Metode ini berdasarkan pengalaman selalu berbeda hasilnya apabila dibandingkan dengan menggunakan azimuth hasil dari sunshot, dan rasanya lebih konfiden menggunakan hasil sunshot sebagai startline. Kemudian, metode pengukuran di lapangan menggunakan sistem stake-out seperti yang dilakukan pada umumnya , dengan peralatan dan metode kerja seperti :

- Peralatan yang digunakan dalam satu kru adalah ; 1 buah Total Station, 1 buah kaki tiga, 2 stik ring pole, meteran.

- Stik ring pole selain digunakan sebagai stake-out juga digunakan sebagai posisi back-side dan front-side (satu kru hanya menggunakan satu statip/kakitiga).

- Setelah alat berdiri, kemudian memasukkan/memanggil koordinat back-side. Setelah didapat sudut/koordinat kemudian memasukkan koordinat dari TR/SP yang akan di stake-out. Pengambilan data (record) hanya dilakukan dalam sekali bacaan (tidak ada face-2, hanya face-1 saja). Pada Total Station yang dipakai ada yang hanya mempunya face-1, sedangkan face-2 tidak tersedia tapi ada juga yang mempunya face-1 dan face-2 tetapi tepat dilakukan sekali bacaan tidak dialkuakan bacaan biasa dan luar biasa.

- Setelah selesai melakuka stake-out, kemudaian membidik front-side dengan target stik ring-pole (bukan menggunakan target yang diletakan di statif/kakaitiga).

Motode pengukuran diatas menghasilkan data dari lapangan langsung berupa koordinat, sehingga tidak perlu dilakukan pemrosesan data lagi, yang dilakukan hanya membandingkan antara koordinat teoritik dengan koordinat hasil pengukuran. Dikarenakan output data dari lapangan langsung berupa koordinat, sehingga sumua koordinat hasil pengukuran dari lapangan hampir sama dengan koordinat teoritiknya (karena metode yang dipakai memugkinkan untuk itu, dimana koordinat teoritik dimasukkan kemudian langsung dipanggil untuk di stake-out dan begitu posisi sudah pas langsung dilakukan perekaman dengan hasil koordinat langsung). Hal ini sangat rentan sekali untuk terjadinya line yang salah/melenceng karena pemrosesan raw data tidak dilakukan (tidak ada) dan juga tidak adanya kontrol/sunshot di lintasan tersebut. Kaidah utama Total Station sebagai alat ukur sudut dan jarak juga terabaikan.

Finaly, menurut pendapat pribadi hal tersebut kurang benar dan menurut kaidah disiplin ilmu Geodesi juga tidak dapat dikatakan benar karena tidak adanya kontrol yang jelas, tidak adanya pemrosesan data susut dan jarak yang detail, tidak adanya control kualitas data ukuran, tidak adanya koreksi-koreksi kesalahan pengukuran dan mungkin juga karena “tidak adanya – tidak adanya” yang laennya lagi. Apabila hal tersebut sudah benar-benar tejadi, apakah yang harus dilakukan sebagai seorang Geodet? Apakah harus melacurkan ilmunya?

Komentar (1) »

INDIA PART-3 (Bomblass + Panas)

assam_tribune_11-april-2009Gimana ya kabar Pemilu di Indonesia? Pasti penuh dengan hingar-bingar kampanye, banyak artis-artis “hot” yang ikut mengguncang suasana kampanya plus dengan kemacetan yang bikin stress semua oaring. Trus siapa yang menang ya? Biarpun disini bisa dipantau lewat internet tapi fill-nya tetep gak dapat kalo gak merasakan sendiri hehehe. Di India juga sedang persiapan untuk mengadakan Pemilu, persiapan dan sambutan “yang luar biasa” dari semua unsure masyarakat India.

PERTAMA :

Semua aktivitas kegiatan Project Seismic IOT-SP01 libur, tidak ada aktivitas dilapangan samasekali. Semua kru diliburkan untuk menghadapi Pemilu tersebut. Padahal itu merupakan pengalihan dari sebuah permasalah di project yang dari waktu-kewaktu tak kunjung ada penyelesaiannya. Apa gerangan permasalah itu? Masih inget dengan tambahan satu S di HSE yang jadi HSSE? Ya… Security, permasalah pokok di lokasi project ini adalah security, semua orang sudah tahu bahwa itu merupakan persyaratan yang mutlak harus tersedia dengan jumlah yang mencukupi untuk dapat melakukan aktivitas pekerjaan dilapangan, tapi apa yang terjadi? Pengaturan personil security yang tidak jelas, baik dari management security tersebut maupun dari pihat management IOT (India Oil Tanking adalah kontraktor seismic disini). Jumlah personil security tidak sebanding dengan jumlah kru yang dipekerjakan sehingga ada kru yang tidak terkawal oleh security dan ujung-ujungnya tidak produksi. “Tidak produksi” sebuah kata yang sangat janggal terjadi di Indonesia, dan chief dept. yang tidak produksi tersebut siap-siap untuk disemprot oleh Party Chief, tapi kata kru tidak produksi di sini merupaka hal yang wajar terdengar, tidak ada action untuk mencari akar permasalah dari masalah itu, selalu saja alasan security tidak ada, kurang atau tidak ke lapangan, kalau tidak itu selalu menggunakan alasan alam, tadi malam atau kemren hujan deras dan jalan tidak bisa dilewati karena licin. Padahala factor-faktor itu adalah eksternal dari kegiatan project dimana seharusnya bisa diminimalisir sekecil mungkin. Kalau sudah tahu ada masalah seperti itu, trus apa peran orang-orang ELNUSA yang di kirim ke India? Hahahaha….. au ach elap.

KEDUA :

Saat ini India sudah masuk summer, cuaca sudah panas tidak seperti waktu pertama datang ke India dimana masih dingin banget, waktu itu biarpun matahari bersinar tapi cuaca dan suasana masih dingin sekali sampai untuk urusan mandi, sehari pun satu kali mandi sudah untung. Cuaca sudah dingin plus tidak ada kegiatan sama sekali, so keringat juga tidak keluar. Beda banget dengan sekarang, pagi hari pun sudah terasa “gerah” tidak beda dengan kondisi di Surabaya, apalagi disini ditambah dengan angin yang kering bikin kulit terasa kering dan bibir jadi kering dan pecah-pecah (wah kalo itu mungkin kurang vitamin C, vit. C = cium) hahahaha. Debu juga bertebaran dimana-mana, tidak tahu dari mana asalnya pokoknya si-dust ini selalu muncul dimana-mana sampai-sampai laptop pun harus dibersihakn minimal 2 hari sekali kalo tidak mau laptop-nya bisa buat nanam kacang karena debu dah tebel banget. Munkin itu berasal dari keringnya tanah disini ditambah dengan kondisi jalan yang belum diaspal padahal kondisi lalulintasnya “padat” mulai dari sapi, sepeda, otoricha (sejenis bemo atau bajai) sampai dengan truk melintasi kondisi jalan tersebut. Bagi yang alergi dengan debu siap-siap untuk bersakit-sakit dan bergatal-gatal ria.

assam_tribune_12-april-2009KETIGA :

Panasnya cuaca sekarang mungkin lebih panas kondisi politik disini, itulah yang kita kawatirkan sekarang ini (kita? loe kali, gua kagak). Di Koran local hampir setiap hari ada berita pengeboman, bahkan sudah sampai kontak terbuka salinga menembak antara “teroris” dengan tentara India. Korban yang jatuh juga sudah tak terhitung, baik yang luka-luka maupun yang meninggal. Parahnya lagi, semua tragedy itu kebanyakan terjadi di Assam, distrik/propinsi yang kita datangi untuk mengawasi kegiatan seismic ini. Bahkan tadi malam terdengar suara sirine yang lama sekali, katanya sih kalau suara sirine itu terdengar berarti sedang terjadi caos atau teroris sedang beraksi, tapi tidak tahu daerah mana dan siapan sasarannya. Perlu diketahui, posisi team Elnusa adalah di sebuah Hotel yang konon terbagus di kota, kota kecil itu namanya Lumding yang terletak di distrik/propinsi Assam yang letaknya di bagian timur Inida, daerah Assam inilah yang konon ceritanya tempat yang subur untuk tumbuhnya teroris atau gerakan separatis yang menentang pemerintahan. Tapi notabene, pemerintah India yang tahu itu semua tidak berusaha untuk menumpasnya, gak tahu apa gerangan maksudnya. Btw, dengan kondisi seperti ini dan jiwa muda yang masih meledak-ledak semoga kita tetap aman dan selamat kembali ke Indonesia, AMIN…. to be continue.

Komentar bertahan »

INDIA PART-2

menu-sarapanTidak ada kata-kata yang dapat mewakili kondisi pekerjaan yang sedang dilakukan disini. Marah, jengkel, kesal, dll yang rasanya pengen dilampiaskan, tapi pada siapa semua itu harus terlampiaskan??? Tidak ada hal atau pekerjaan yang sesuai dengan bayangan, hak dan kewajiban yang selayaknya didapatkan. Apakah ini yang namanya tidak bersyukur? Semua tetap harus kita syukuri tapi tidak selayaknya kita merekomendasikan semua itu. Intinya, India tidak seperti yang kita bayangkan.

Wokey, PERTAMA :

Gambaran seismic di India tuh mungkin seperti seismic yang dilakukan di Indonesia tahun 80 – 90an, jauh sekali dengan standart yang sekarang lazim dilakukan. HSE? Makanan apa tuh? Biasanya seismic selalu lekat dengan HSE, mungkin itu syarat utama dan bahkan sekarang ada yang mensyaratkan di kontrak bahwa HSE adalah persyaratan yang pertam harus disediakan dengan standart tertentu (bagus). Walaupun di sini namanya HSSE, ‘S’ yang satunya adalah Security (mungkin karena disini daerah konflik yaa). So namanya HSSE disini tidak berjalan secara maksimal (baca=tidak berjalan), mulai dari mobil+driver, APD kru/staff, Meeting, Induksi, Medic, dll semuanya kurang dan kalo boleh saya nilai mungkin nilainya 2 dari skala 10. Gimana, menghawatirkan? Belum ditambah dengan tidah adanya radio sebagai komunikasi, gimana ya kalo terjadi evakuasi atau penyanderaan kru?padahal disini kan daerah konflik. GILA, mungkin kata-kata yang tepat untuk menggambarkan semua ini.

kru-dinamiteKEDUA :

Managemen Tour, hehehe biar kayak di INA dech. Kita orang asing yang notabene sebagai superviser yang fungsinya untuk mengontrol kinerja mereka, tapi dalam kenyataanya susah sekali mengimplementasikannya. Terbatas dalam hal komunikasi karena seringnya menggunakan bahasa asli bukan bahasa inggris, tidak mudah untuk “masuk” ke lingkup pekerjaannya, orang yang diberitahu sering “ngeyel”, tidak dapat pergi kelapangan untuk mengidentifikasi masalah yang ada karena alasan security , dll. Tanpa adanya supervise sebenarnya sudah bisa berjalan, karena tenaga kerjanya merupakan orang–orang yan sudah experience semua dan banyak yang sudah bergabung dengan perusahaan-perusahaan seismic kelas dunia. Pendidikannya juga banyak yang S2 atau bahkan doctor tapi itu semua menurut informasinya, tidak tahu seberapa kebenarannya ditambah juga tidak tahu seberapa kualitas dari gelar-gelar itu semua. Memang mereka bergelar dan ber experience tapi kemungkina mereka Cuma sebagai eksekutor dilapngan (pekerja) karena management yang diterapkan dalam mengelola sebuah kru seismic sangat minim sekali bahka untuk menjaga kualitas dari datanya yang akan dihasilkan, saya meragukannya untuk mendapat hasil yang maksimal. Ini dikarenakan terlalu banyak tahapan-tahapan pekrjaan yang bisa dikatakna “salah” dan terlalu banyak “dimainkan” dalam proses pmngerjakannya.

KETIGA :

Kamar 3 x 5, semua aktivitas setiap hari lebih banyak dihabiskan dalam kotak yang ukurannya cuma segitu, bayangkan kalo sampe itu tejadi lebih dari 2 bulan. Pasti yang ada di Indonesia pada teriak-teriak. Itulah pentingnya sebuah arti kebebasan, bebas berkativitas maupun bebas berkarya, kalo lebih ektrim-nya “pembunuhan karakter” hahahha kayaknya bombastis sekali yaa…. Belum lagi service yang diberikan oleh Hotel tidak selayaknya dan sepantasnya kita dapatkan (menurut saya pribadi) jauh sekali dengan staging Elnusa yang notebane ada ditengah hutan. Menu makanan setiap hari hanya itu-itu aja dank e-halal-annya diragukan, tidak bisa keluar hotel seenaknya tapi harus ada yang menemani karena alasan keamanan, tidak adanya ruangan khusus bagi setiap departemen (saya bilang kantornya kayak kadang aja, semua numpuk disitu n kalo bicara teriak-teriak), bahkan cuci baju juga sendiri nih karena kita takut gak bersih & datangnya lama banget. Semua peralatan yang kita perlukan “belum” disediakan dengan berbagai macam alasan, dll. Dengan segala keterbatasan itu, apa yang kira-kira dapat kita hasilkan? Pekerjaan apa yang bisa kita maksimalkan? Apakah kita harus bersyukur atau meminta “hak” kita? Dan apakah motivasi kita untuk melakukan hasil yang “maksimal” itu? Masih banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak ini, tapi intinya kita harus bisa menyikapi semua ini dengan dewasa, kepala dingin dan tidak emosi, pasti ada banyak pelajaran dan hikmah dari semua yang terjadi. So…. akhirnya toh juga bisa belajar nulis, biarpun masih gelepotan dan acak kadut gak karuan…. to be continue.

Komentar (1) »

India Part-1

temple at Guwahati

Good morning sir, your’re dinner is ready…

Itulah kata-kata yang selalu kita dengar tiap hari kalo sarapan, makan siang atau makan malam sudah siap, itupun dengan ucapan yang gelepotan gaya inggris-india (kayak enggresku bagus aja hehehe). Sarapan yang sudah kita order setiap pagi jam 7 dan sudah selalu kita ingatkan terus tapi tetap aja gak bisa tepat jam 7, begitu juga dengan jam makan siang ataupun makan malam. Itu adalah service hotel, karena kita itnggal di hotel so bagaimana kalo di basecamp ya?hotel aja begitu apalagi di basecamp (ternyata di basecamp makanan lebih bersahabat dengan perut kita, service lumayan bagus juga).

Sarapan yang sudah kita idamkan sudah ada di meja, wah….. kita kaget banget kenapa yang sarapan ada tiga orang tapi kok cuma ada dua makuk kecil yang tertutup dan tiga cangkir milk-tea, ternyata semua serba pas dan tidak ada sisa. Menu juga memprihatikan, paleng roti or nasi trus telur. Telur merupakan lauk utama, kalo pagi telur rebus, siang telor dadar & malem omllete (sama aja yaa….). BTW semua itu tetep harus kita syukuri, semua adalah nikmat ALLAH, ingat firman-NYA :

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS : Al-Nahl 16:144)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS Al-Baqarah 2:152)

Rasa syukur Alhamdulillah terpanjatkan, lebih-lebih ketika rombongan ke-3 dari Indonesia datang. Rombongan tersebut membawa bekal seperti yang kita infokan, mereka membawa kecap, saus dan abon tapi tidak tahu sampai kapan itu bertahan, mungkin cuma 1 bulan saja kok heheheh. Dengan bawaan mereka, nuansa masakan Indonesia mulai terasa walaupun menu tetap sama seperti semula dengan tambahan kwantitasnya dan ada juga roti cappati setiap sarapan dan makan malam, Alhamdulillah.

Kejadian yang diluar dugaan juga terjadi nih disini, bagi yang suka minum es kalo pergi kesini tidak usah repot-repot untuk membuat es di lemari es. Tunggu aja kalo hujan tiba, kadang-kadang turun es juga lho. Kalo di tempat kelahiran saya biasanya turun salju tapi kalo disini turun butiran-butiran es sebesar ibu jari. Ditambah juga dengan suara petir yang luar biasa kerasnya sampai tidak bisa membedakan atara boomblas atu suara petir. Karena disini sering juga terjadi pengeboman oleh teroris. Tadi malam di Guwahati juga terjadi pengeboman dari separatis yang tidak bertanggungjawab, tapi “hanya” menewaskan 1 orang dan 11 orang terluka saja kok.

Di Global Hotel tempat kita tinggal sering sekali terdengar bunyi sirine/bel, mungkin hamper setiap 15menit sekali. Bunyi yang sangat mengganggu itu berasal dari kereta api, dimana letak stasiun Lumding dengan hotel hanya berkisar 500mtr tapi bunyinya minta ampun, bikin kita terbangun dari merajut mimpi. Mungkin temen-temen yang ikutan Party A5.63 di Buton, kerasnya suara sirinenya mirip dengan suara bel kapal laut yang mau berangkat. Hotel ini juga terletak di tengah-tengah pasar besar kota Lumding (mungkin tepatnya pasar tradisional plus dengan becek dan sampahnya) so bisa dibayangkan deh gimana carut marut san semrawutnya kalo lagi waktu belanjan.

Semoga bisa bertahan di “penjara” Hotel Global, semoga bisa terlahir kembali, amin….

Be continue …

Komentar bertahan »

Road to India

welcome-gowahati-airport1

Road to Buton aja blum kelar nulisnya, eh…. Sekarang dah ke India, padahal kemren juga udah mampir 2mingguan ke Blora. Memang seperti pekerja-pekerja rendahan yang laennya, ketika mendapatkan tugas atau perintah dari bozz harus langsung dikerjakan biarpun ada banyak hal yang belum terselesaikan.

Maaf Party A5.74…. belum sempet memberikan kontribusi yang maksimal tapi malah meninggalkannya, mungkin bisa jadi bikin tambah masalah di Blora. Gimana gak nambah masalah, kerjaan masih banyak blum beres, overlap cumin 1.5 jam, dll. Maaf bozz….

Finaly….. rabu pagi masih harus ngantor, ketemu ma bozz & overlap juga ma senior sambil nunggu bozz yang mau berangkata bareng, intinya aku mau nebeng ke bandara hehehe. Berangakat bertiga, Party Chief (pak Suryo Dwiyono), APC/Seismologi (pak Ade Setiawan) & Geodetic (aku) pake Singapore Airline. Jam 3 sore dah nongkrong dibandara, padahal jam 5 baru berangkat ke Singapore. Sambil nunggu pak Wawan masih jalan ngalor ngidul ngetan ngulon gak jelas, nelponin orang-orang biar pulsa IM3 abis tp gak abis-abis, emang-eman kalo gak diabisin ntar pulang dari India juga gak bisa dipakai lagi. Bertiga dah ngumpul langsung aja ceck-in & ngurus macem-macem administrasi, maklum mau ke LN so beda ma penerbangan local abis cekc-in langsung bisa nongkrong. Ruang tunggu International jelas beda banget ma domestic, keliatan sepi n rapi yang jelas lebih nyaman aja. Berangkat naik ke pasawatpun rapi & teratur.

Diruang tunggu dah beda, apalagi di pesawat. Wooww…. beda bngt tuh ma masakapia local hehehe tapi tetep aja pramugari juga beda ma yang ada dibayangan hehehe ternyata banyak yang senior. Sampe di Singapore sekitar 2jam-an dari Jakarta, tapi pengalaman baru selama 2jam-an di dalam Singapore Airline. Sampe di bandara Singapore, jauh sekali berbeda suasananya dan fasilitasnya di bandingkan dengan bandara-bandara yang ada di Indonesia, yang jelas lebih bagus dalam semua hal.

Transit di Singapore Cuma sekitar 1jam-an, disini sudah mulai terasa aroma India-nya. Sudah banyak calon penumpang yang orang India, dan tujuan selanjutnya dari Singapore adalah Calcuta. Penerbangannya lebih lama, sekitar 4 jam-an tapi dengan pelayanan yang tetep sama dengan dari Jakarta ke Singapore. Sempet memcicipi masakan India di pesawat dan wow…. Kurang familiar di lidah n perut. Sebelum tidur juga sempet liat film Slumdunk Millioner, biar ada gambaran dikit tentang India.

Sampai Calcuta (orang India malah menyebutnya Kolkata) sudah sekitar jam 11an waktu setempat, ternyata bandaranya seperti bandara Indonesia tahun 1990an kali hehehehe. Dalam perjalanan ke hotel, ternyata gambaran yang ada di film Slumdunk Millioner memang tidak berbeda jauh (sory… India-he). Karena kecapekan & gak punya recehan Rs (rupe) sampe gak sempet ngasih tips buat pegawe hotel. Pagi jam 6 sudah siap berangkat ke bandara lagi, belum sempat sarapan di hotel karena hotel siapnya jam 7 dan itu sudah merupakan kebiasaan orang India untuk breakfast lebih siang dari kebiasaan kita. Akhirnya kita sarapan sandwich & capuccino di bandara Calcuta sambil nunggu penerbangan ke Guwahati sekitar jam 9an waktu India. Penerbangan domestic di India juga tidak beda jauh ma di Indonesia, apalagi busnya hehehehe kalo tergores takut tetanus.

Biar gak kepanjangan langsung aja dech… Sampe Guwahati dah di jemput ma pak Wahyu langsung menuju Guest House. Dalam perjalanan yang bikin spot jantung, GILA drivernya gak ada HSE sama sekali, maen kebut aja kayak bawa karung gak perduli penumpang dibelakang dan ternyata memang begitu adanya di India, ini juga kita rasakan waktu di Calcuta. Sampe di Guest House langsung overlap ma temen-temen, nginep semalem trus naek kereta ke Lumding sekitar jam 7 pagi (gara keasikan ngobrol n bercanada, belakangan baru nyadar kalo peralatan mandiku ketinggalan di sana). Ternyata kereta delay so kita bisa jalan-jalan dulu keliling Guwahati dan merasakan hangatnya milk-tea sekaligus bisa motret-motret, jeprat-jepret dech….

Kereta eksekutif juga tidak senyaman di Indo kok, mungkin karena di India alat transportasi utama adalah kereta so stasiun kelihatan semrawut banget. Sampai Lumding langsung kita dijemput dengan mobil seadanya (inget… no-HSE) plus dengan security/polisi yang persis seperti di film-film itu huahuahua. Ternyata kita tinggal di hotel sekaligus aulanya dijadikan ruang kantor. Hari-hari pertama banyak sekali yang perlu diadaptasi, mungkin ntar tak tulis di selanjutnya aja.

KEEP SPIRIT EN TEAM…… WELCOME INDIA

Komentar bertahan »