India Part-1

temple at Guwahati

Good morning sir, your’re dinner is ready…

Itulah kata-kata yang selalu kita dengar tiap hari kalo sarapan, makan siang atau makan malam sudah siap, itupun dengan ucapan yang gelepotan gaya inggris-india (kayak enggresku bagus aja hehehe). Sarapan yang sudah kita order setiap pagi jam 7 dan sudah selalu kita ingatkan terus tapi tetap aja gak bisa tepat jam 7, begitu juga dengan jam makan siang ataupun makan malam. Itu adalah service hotel, karena kita itnggal di hotel so bagaimana kalo di basecamp ya?hotel aja begitu apalagi di basecamp (ternyata di basecamp makanan lebih bersahabat dengan perut kita, service lumayan bagus juga).

Sarapan yang sudah kita idamkan sudah ada di meja, wah….. kita kaget banget kenapa yang sarapan ada tiga orang tapi kok cuma ada dua makuk kecil yang tertutup dan tiga cangkir milk-tea, ternyata semua serba pas dan tidak ada sisa. Menu juga memprihatikan, paleng roti or nasi trus telur. Telur merupakan lauk utama, kalo pagi telur rebus, siang telor dadar & malem omllete (sama aja yaa….). BTW semua itu tetep harus kita syukuri, semua adalah nikmat ALLAH, ingat firman-NYA :

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS : Al-Nahl 16:144)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS Al-Baqarah 2:152)

Rasa syukur Alhamdulillah terpanjatkan, lebih-lebih ketika rombongan ke-3 dari Indonesia datang. Rombongan tersebut membawa bekal seperti yang kita infokan, mereka membawa kecap, saus dan abon tapi tidak tahu sampai kapan itu bertahan, mungkin cuma 1 bulan saja kok heheheh. Dengan bawaan mereka, nuansa masakan Indonesia mulai terasa walaupun menu tetap sama seperti semula dengan tambahan kwantitasnya dan ada juga roti cappati setiap sarapan dan makan malam, Alhamdulillah.

Kejadian yang diluar dugaan juga terjadi nih disini, bagi yang suka minum es kalo pergi kesini tidak usah repot-repot untuk membuat es di lemari es. Tunggu aja kalo hujan tiba, kadang-kadang turun es juga lho. Kalo di tempat kelahiran saya biasanya turun salju tapi kalo disini turun butiran-butiran es sebesar ibu jari. Ditambah juga dengan suara petir yang luar biasa kerasnya sampai tidak bisa membedakan atara boomblas atu suara petir. Karena disini sering juga terjadi pengeboman oleh teroris. Tadi malam di Guwahati juga terjadi pengeboman dari separatis yang tidak bertanggungjawab, tapi “hanya” menewaskan 1 orang dan 11 orang terluka saja kok.

Di Global Hotel tempat kita tinggal sering sekali terdengar bunyi sirine/bel, mungkin hamper setiap 15menit sekali. Bunyi yang sangat mengganggu itu berasal dari kereta api, dimana letak stasiun Lumding dengan hotel hanya berkisar 500mtr tapi bunyinya minta ampun, bikin kita terbangun dari merajut mimpi. Mungkin temen-temen yang ikutan Party A5.63 di Buton, kerasnya suara sirinenya mirip dengan suara bel kapal laut yang mau berangkat. Hotel ini juga terletak di tengah-tengah pasar besar kota Lumding (mungkin tepatnya pasar tradisional plus dengan becek dan sampahnya) so bisa dibayangkan deh gimana carut marut san semrawutnya kalo lagi waktu belanjan.

Semoga bisa bertahan di “penjara” Hotel Global, semoga bisa terlahir kembali, amin….

Be continue …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: