INDIA PART-2

menu-sarapanTidak ada kata-kata yang dapat mewakili kondisi pekerjaan yang sedang dilakukan disini. Marah, jengkel, kesal, dll yang rasanya pengen dilampiaskan, tapi pada siapa semua itu harus terlampiaskan??? Tidak ada hal atau pekerjaan yang sesuai dengan bayangan, hak dan kewajiban yang selayaknya didapatkan. Apakah ini yang namanya tidak bersyukur? Semua tetap harus kita syukuri tapi tidak selayaknya kita merekomendasikan semua itu. Intinya, India tidak seperti yang kita bayangkan.

Wokey, PERTAMA :

Gambaran seismic di India tuh mungkin seperti seismic yang dilakukan di Indonesia tahun 80 – 90an, jauh sekali dengan standart yang sekarang lazim dilakukan. HSE? Makanan apa tuh? Biasanya seismic selalu lekat dengan HSE, mungkin itu syarat utama dan bahkan sekarang ada yang mensyaratkan di kontrak bahwa HSE adalah persyaratan yang pertam harus disediakan dengan standart tertentu (bagus). Walaupun di sini namanya HSSE, ‘S’ yang satunya adalah Security (mungkin karena disini daerah konflik yaa). So namanya HSSE disini tidak berjalan secara maksimal (baca=tidak berjalan), mulai dari mobil+driver, APD kru/staff, Meeting, Induksi, Medic, dll semuanya kurang dan kalo boleh saya nilai mungkin nilainya 2 dari skala 10. Gimana, menghawatirkan? Belum ditambah dengan tidah adanya radio sebagai komunikasi, gimana ya kalo terjadi evakuasi atau penyanderaan kru?padahal disini kan daerah konflik. GILA, mungkin kata-kata yang tepat untuk menggambarkan semua ini.

kru-dinamiteKEDUA :

Managemen Tour, hehehe biar kayak di INA dech. Kita orang asing yang notabene sebagai superviser yang fungsinya untuk mengontrol kinerja mereka, tapi dalam kenyataanya susah sekali mengimplementasikannya. Terbatas dalam hal komunikasi karena seringnya menggunakan bahasa asli bukan bahasa inggris, tidak mudah untuk “masuk” ke lingkup pekerjaannya, orang yang diberitahu sering “ngeyel”, tidak dapat pergi kelapangan untuk mengidentifikasi masalah yang ada karena alasan security , dll. Tanpa adanya supervise sebenarnya sudah bisa berjalan, karena tenaga kerjanya merupakan orang–orang yan sudah experience semua dan banyak yang sudah bergabung dengan perusahaan-perusahaan seismic kelas dunia. Pendidikannya juga banyak yang S2 atau bahkan doctor tapi itu semua menurut informasinya, tidak tahu seberapa kebenarannya ditambah juga tidak tahu seberapa kualitas dari gelar-gelar itu semua. Memang mereka bergelar dan ber experience tapi kemungkina mereka Cuma sebagai eksekutor dilapngan (pekerja) karena management yang diterapkan dalam mengelola sebuah kru seismic sangat minim sekali bahka untuk menjaga kualitas dari datanya yang akan dihasilkan, saya meragukannya untuk mendapat hasil yang maksimal. Ini dikarenakan terlalu banyak tahapan-tahapan pekrjaan yang bisa dikatakna “salah” dan terlalu banyak “dimainkan” dalam proses pmngerjakannya.

KETIGA :

Kamar 3 x 5, semua aktivitas setiap hari lebih banyak dihabiskan dalam kotak yang ukurannya cuma segitu, bayangkan kalo sampe itu tejadi lebih dari 2 bulan. Pasti yang ada di Indonesia pada teriak-teriak. Itulah pentingnya sebuah arti kebebasan, bebas berkativitas maupun bebas berkarya, kalo lebih ektrim-nya “pembunuhan karakter” hahahha kayaknya bombastis sekali yaa…. Belum lagi service yang diberikan oleh Hotel tidak selayaknya dan sepantasnya kita dapatkan (menurut saya pribadi) jauh sekali dengan staging Elnusa yang notebane ada ditengah hutan. Menu makanan setiap hari hanya itu-itu aja dank e-halal-annya diragukan, tidak bisa keluar hotel seenaknya tapi harus ada yang menemani karena alasan keamanan, tidak adanya ruangan khusus bagi setiap departemen (saya bilang kantornya kayak kadang aja, semua numpuk disitu n kalo bicara teriak-teriak), bahkan cuci baju juga sendiri nih karena kita takut gak bersih & datangnya lama banget. Semua peralatan yang kita perlukan “belum” disediakan dengan berbagai macam alasan, dll. Dengan segala keterbatasan itu, apa yang kira-kira dapat kita hasilkan? Pekerjaan apa yang bisa kita maksimalkan? Apakah kita harus bersyukur atau meminta “hak” kita? Dan apakah motivasi kita untuk melakukan hasil yang “maksimal” itu? Masih banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak ini, tapi intinya kita harus bisa menyikapi semua ini dengan dewasa, kepala dingin dan tidak emosi, pasti ada banyak pelajaran dan hikmah dari semua yang terjadi. So…. akhirnya toh juga bisa belajar nulis, biarpun masih gelepotan dan acak kadut gak karuan…. to be continue.

1 Response so far »

  1. 1

    KuSuMa said,

    Jgn lupa utk sll bsyukur..dan brsabar..
    Just enjoy ur work to make u feel better n better..
    Smangat!


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: