INDIA PART-4 (Survey Dept. Method)

iot-sp01-program-mapSurvey Dept. merupakan salah satu dept. dalam project seismic yang akan melakukan tahapan pekerjaan awal atau pertama kali yang harus melakukan pekerjakan dalam sebuah project seismic. Inti pekerjaan dari tahapan ini adalah menempatkan titik-titik koordinat yang sudah direncanakan ke lapangan. Koordinat-koordinat tersebut apabila dihubungkan antara titik satu dengan yang alainnya dalam sebuah lintasan (line), biasanya akan membentuh sebuah garis lurus. So bagaimana caranya kok bisa menempatkan titik-titik yang direncanakan (teoritik) ke lapangan?

Pertama kali yang harus dilakukan adalah menentukan atau membuat titik fix yang akan digunakan sebagai acuan awal pengukuran. Titik tersebut harus mempunyai sebuah nilai koordinat (latitude, longtitude atau easting, northing dan dilengkapi dengan height/elevasi), biasanya di Indonesia menggunakan BM (benchmark) dari Bakosurtanal dan apabila BM tersebut letaknya relative jauh dengan area survey, maka dilakukan pengamatan BM di area survey menggunakan GPS Geodetic. Dengan metode tertentu yang sesuai dengan disiplin ilmu Geodesi, maka BM-BM tersebut akan disebarkan di area survey.

Setelah titik-titik fix sebagai titik star pengukuran didapatkan, maka dilakukan pengukuran/pemasangan titik-titik teoritik tersebut menggunakan alat Total Station. Alat tersebut pada prinsipnya mengukur sudut dan jarak, sehingga didapatkan sebuah nilai koordinat dengan sebuah system perhitungan secara geodesi.

Pengertian Geodesi berdasarkan dari website NOAA National Service Education Centre adalah ilmu tentang pengukuran dan pengamatan bentuk bumi dan lokasi titik di muka bumi. NOAA’s National Geodetic Survey (NGS) bertanggung jawab mengembangkan dan merawat system data Geodesi nasional (AS) yang digunakan untuk navigasi, sistem komunikasi dan pemetaan. Geodesy is the science of measuring and portraying the earth’s surface (Helmert, 1880) atau Geodesy is the discipline that deal with the measurement and representation of the earth, incuding its gravity field, in a three-dimentional time varying space (Associate Committee On Geodesy and Geopysics, 1973).

Data hasil pengukuran tersebut dilakukan pemrosesan dengan menggunakan software tertentu kemudian dihasilkan koordinat dengan tingkat keakuratan dan ketelitian tertentu. Untuk mengontrol ukuran tersebut tetap bagus dan sesuai dengan yang diharapkan, maka diperlukan pengamatan matahari untuk mengetahui arah utara sebenarnya. Pengertian pengamatan matahari secara mudahnya yaitu mengamati matahri sebagai benda langit yang posisinya selalu tetap dan dengan menggunakan hitungan tertentu dapat dijadikan sebagai acuan titik pengamatan (utara). Apabila tidak didapat dilakukan pengamatan matahari karena factor cuaca atau kondisi lapangan, maka diperlukan sebuah BM/titik fix yangdiamati menggunakan GPS Geodetic. Itulah sekilas pekerjaan pokok dari Survey Dept., masih banyak lagi pekerjaan yang laennya seperti penyediaan peta, pembuatan gambaran kondisi lapangan yang dilewati lintasan (sketchline), elevasi sebuah lintasan, rintis bridging, dll. Masih bingun??? So pasti, bagi orang awam yang bukan berkecimpung dalam sebuah pekerjaan pasti bingung, saya yakin yang bekerja di bidang seismic tapi bukan dari dept. Survey juga masih bingung. Semoga secara Geodesi, detil dari pekerjaan ini dapat terposting juga di blog ini (ditunggu masukan dan sarannya dari para senior).

Apakah gambaran diatas merupakan hal yang sudah baku??? Yang harus dikerjakan dalam sebuah pekerjaan Seismic??? Apakah hanya di satu perusahaan saja, tetapi di perusahaan yang lainnya berbeda motode dan konsepnya???. Secara Geodesi,pekerjaan diatas dapat dikatakan BENAR karena sesuai dengan kaidah-kaidah pengukuran yang sesuai dengan disiplin ilmu Geodesi.

Apabila sebuah pekerajaan dari dept. Survey dari sebuah project seismic tidak dilakukan seperti tahapan diatas bagaimana ya?. Pekerjaan itu diawali dengan pembuatan BM GPS yang diamati menggunakan GPS gedotic tentunya tetapi tidak menggunakan sebuah titik referensi yang jelas. Pembuatan BM GPS tersebut tidak menggunakan suatu sistem jarring yang dapat mengkoreksi kesalahan satu pengamatan dengan pengamatan yang lainnya. Secara mudahnya, pengamatan BM tersebut hanya menggunakan single baseline karena setip titik BM tidak terhubungkan atara yang satu dengan yang lainnya. Pemrosesannya pun dilakukan langsung setiap selesai melakukan pengukuran dan tidak ada ukuran lebih. (piye yo lek njelasne, kok aku dadi binging dewe. Hehehehe).

Pengukuran lintasan menggunakan alat Total Station diawali dengan Start line menggunakan dua titik pengamatan GPS yang tidak terikat (seperti translock) dimana azimuth dihitung dari dua GPS yang sudah diketahui koordinatnya tersebut dan tidak menggunakan Sunshot (azimuth startline tidak ada pembanding). Metode ini berdasarkan pengalaman selalu berbeda hasilnya apabila dibandingkan dengan menggunakan azimuth hasil dari sunshot, dan rasanya lebih konfiden menggunakan hasil sunshot sebagai startline. Kemudian, metode pengukuran di lapangan menggunakan sistem stake-out seperti yang dilakukan pada umumnya , dengan peralatan dan metode kerja seperti :

Peralatan yang digunakan dalam satu kru adalah ; 1 buah Total Station, 1 buah kaki tiga, 2 stik ring pole, meteran.

Stik ring pole selain digunakan sebagai stake-out juga digunakan sebagai posisi back-side dan front-side (satu kru hanya menggunakan satu statip/kakitiga).

Setelah alat berdiri, kemudian memasukkan/memanggil koordinat back-side. Setelah didapat sudut/koordinat kemudian memasukkan koordinat dari TR/SP yang akan di stake-out. Pengambilan data (record) hanya dilakukan dalam sekali bacaan (tidak ada face-2, hanya face-1 saja). Pada Total Station yang dipakai ada yang hanya mempunya face-1, sedangkan face-2 tidak tersedia tapi ada juga yang mempunya face-1 dan face-2 tetapi tepat dilakukan sekali bacaan tidak dialkuakan bacaan biasa dan luar biasa.

Setelah selesai melakuka stake-out, kemudaian membidik front-side dengan target stik ring-pole (bukan menggunakan target yang diletakan di statif/kakaitiga).

Motode pengukuran diatas menghasilkan data dari lapangan langsung berupa koordinat, sehingga tidak perlu dilakukan pemrosesan data lagi, yang dilakukan hanya membandingkan antara koordinat teoritik dengan koordinat hasil pengukuran. Dikarenakan output data dari lapangan langsung berupa koordinat, sehingga sumua koordinat hasil pengukuran dari lapangan hampir sama dengan koordinat teoritiknya (karena metode yang dipakai memugkinkan untuk itu, dimana koordinat teoritik dimasukkan kemudian langsung dipanggil untuk di stake-out dan begitu posisi sudah pas langsung dilakukan perekaman dengan hasil koordinat langsung). Hal ini sangat rentan sekali untuk terjadinya line yang salah/melenceng karena pemrosesan raw data tidak dilakukan (tidak ada) dan juga tidak adanya kontrol/sunshot di lintasan tersebut. Kaidah utama Total Station sebagai alat ukur sudut dan jarak juga terabaikan.

Finaly, menurut pendapat pribadi hal tersebut kurang benar dan menurut kaidah disiplin ilmu Geodesi juga tidak dapat dikatakan benar karena tidak adanya kontrol yang jelas, tidak adanya pemrosesan data susut dan jarak yang detail, tidak adanya control kualitas data ukuran, tidak adanya koreksi-koreksi kesalahan pengukuran dan mungkin juga karena “tidak adanya – tidak adanya” yang laennya lagi. Apabila hal tersebut sudah benar-benar tejadi, apakah yang harus dilakukan sebagai seorang Geodet? Apakah harus melacurkan ilmunya?

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    moeLa said,

    tolong dunk, masukan dari para senior yaa…
    thanks b4

  2. 2

    Yusua Arius said,

    berapa toleransi x,y dan z geodetik terhadap total station yang sanagt bagus dapat dipergunakan sebagai acuan sebaran titik yang akan diikat kembali ke BM geodetik referensi acuan. serta besaran selisih hasil observasi biasa dan luar biasa terhadap backsight dari fronsight?????

  3. 3

    azka ferdinand said,

    Assalamualaikum Wr Wb

    berapa sih toleransi untuk pengecekan distance error untuk pekerjaan sismic?
    yang menyatakan bagus untuk suatu alat total station
    terima kasih sebelumnya untuk masukkanya.

    Wassalam

    Azka F

  4. 4

    efdar said,

    bagaimana sekarang tentang pekerjaan tersebut setelah glonass di beli pihak gps, seberapa jauh merasa terbantu, karena tentunya keakurasian pengukurannya pun lebih baik lagi…..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: